Sabtu, 13 November 2010

Fiqih Qurban

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar: 2). Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis)


muslim.or.id

Kamis, 15 Oktober 2009

Menghadapi Musibah

“Tiada suatu bencana yang terjadi di bumi atau pada dirimu sendiri, melainkan itu ada dalam Kitab sejak sebelum Kami laksanakan kejadian tersebut.” (QS. Al-Hadid : 22)

Pada suatu hari Rasulullah Shalallahu’alaiwasallam bersabda :

“Ingatlah bahwa ada 5 perkara yang aku khawatirkan akan kalian temukan pada suatu saat nanti :

  1. Apabila kemaksiatan telah dilakukan secara teruka dalam suatu masyarakat sehingga mereka melakukan iklan dan promosi dengnan kemaksiatan tersebut, maka itu akan terjadinya wabah penyakit menular yang belum pernah ada pada masyarakat sebelum mereka.
  2. Apabila masyarakat telah sering melakukan pengurangan dan penipuan dalam menimbang barang, maka mereka akan ditimpa oleh kemiskinan, dan akan diperintah oleh penguasa yang kejam.
  3. Jika masyarakat tidak mau mengeluarkan zakat dari harta kekayaan mereka, maka mereka akan ditimpa oleh bencana musim kemarau.
  4. Apabila masyarakat sudah sering mengkhianati janji, maka mereka akan dikuasai oleh musuh-musuh mereka yang akan merampas segala kekayaan yang mereka miliki.
  5. Dan jika para pemimpin mereka tidak melakukan tindakan yang sesuai dengan Kita Allah SWT, maka bencana akan turun kepada mereka.”

(Hadist riwayat Abu Nu’aim, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al Hakim)


Dalam hadist lain Rasulullah Shalallahu’alaiwasallam juga bersabda :

”Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu masyarakat, maka Dia akan menjadikan orang yang baik sebagai pemimpin masyarakat tersebut, tetapi jika Allah berkehendak menjadikan kejelekan bagi suatu masyarakat, maka mereka akan dipimpin oleh orang yang bodoh, dan kekayaan mereka berada di tangan orang-orang kaya yang bakhil.”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Ja’far bin Burqan ketika daerah kawasan yang dibawah kekuasaan Ja’far tersebut berada dalam krisis kemarau panjang. Surat itu berbunyi : ”Maka sesungguhnya musim kemarau itu adalah akibat dari kemurkaan Allah SWT terhadap hamba-Nya. Oleh karena itu aku telah perintahkan kepada seluruh gubernur di seluruh daerah kekuasaanku bahwa pada hari yang telah ditentukan nanti agar mengajak seluruh masyarakat, khususnya bagi mereka yang mempunyai harta kekayaan segera bersedekah dan memberi bantuan kepada fakir miskin. Masyarakat juga dianjurkan untuk segera memohon ampun kepada Allah SWT dan berdo’a dengan lafadz doa yang pernah dibaca oleh Nabi Adam :

Rabbanaa dzalamnaa Anfusanaa wa inlam taghfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khasirin... dan juga membaca lafadz do’a yang pernah dibaca oleh Nabi Nuh sewaktu terjadi banjir besar ”Wa illa taghfirlii watarhamnii akun minal khasiriin” (QS. Hud : 47) dan lafadz doa nabi Yunus sewaktu berada di dalam perut ikan : Laa illaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minal dhaziliin” (QS. Anbiya : 87)

Seorang muslim yang beriman harus yakin bahwa setiap musibah merupakan takdir dari Allah, ”Tiada suatu bencana yang terjadi di bumi atau pada diri kamu sendiri, melainkan ittu aa dalam Kitab sejak sebelum Kami laksanakan kejadian tersebut. Sesungguhnya hal yang demikian ini sangatlah mudah bagi Allah.” (QS. Al Halid : 22)

Kita juga yakin bahwa segala yang terjadi itu adalah yang terbaik bagi kita menurut Allah (bukan menurut perasaan kita) walaupun kadang-kadang hal tersebut tidak kita inginkan.

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216)

Dari ayat ini sangat jelas bahwa ukuran sesuatu baik atau buruk adalah dari Allah bukan dari perasaan kita, karena Allah yang lebih mengetahui segala sesuatu, sedangkan kita hanya bisa menerka dan mengira-ngira saja.

Suatu bencana atau kesulitan hidup boleh jadi disebabkan oleh perbuatan maksiat dan keingkaran kepada Tuhan yang selalu kita lakukan, maka untuk menyadarkan atau untuk menghapuskan dosa-dosa kita tersebut, sehingga dengan keadaan itu kita akan lebih banyak bersabar dan mengingat-Nya. Dalam sebuah hadist disebutkan : ”Perumpamaan orang beriman yang ditimpa oleh suatu macam cobaan adalah bagaikan besi yang dimasukkan ke dalam api, lalu hilang karatnya sehingga tinggal besi yang asli dan baik.”

Dari hadist ini kita dapatkan bahwa besi yang dibakar adalah besi yang berkarat. Jika kita melihat kondisi masyarakat muslim yang ditimpa bencana, rata-rata merupakan masyarakat yang banyak berbuat kemungkaran dan kemaksiatan sewaktu mereka berada dalam kemakmuran dan kekayaan. Sebagai contoh, Libanon sebelum perang adalah daerah pariwisata Timur Tengah, yang terkenal dengan segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan. Bosnia sebelum perang juga dikenal dengan daerah pelesiran Eropa Timur, demikian juga kota Kabul sebelum perang terkenal sebagai Hollywoodnya Asia Selatan. Pada waktu menerima kemakmuran dan kesenangan hidup, mereka banyak lupa kepada Tuhan, maka Allah memberikan peringatan agar mereka sadar dan sabar, sehingga bencana tersebut dapat menhapuskan karat-karat dari masyarakat.

”Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan oleh dosa-dosa mereka.” (QS. Al Maidah : 49)

Kita yakin bahwa segala musibah dan bencana adalah ujian dan cobaan. ” Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan kekurangan buah-buahan.Dan berikanlah berita gembira bagi mereka yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ”Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.” Mereka itulah yang akan mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah : 155-157)

Imam Ali bin Abi Thalib berkata bahwa Rasul SAW pernah bersabda : ”Pahala sabar itu ada tiga”

Pertama, sabar terhadap musibah, yakni sabar dan tidak merasa marah terhadap musibah yang menimpa, sebaliknya dia menerima musibah dengan sikap yang baik, maka Allah akan mengangkat baginya 300 derajat, yakni derajat yang tertinggi di syurga dan setiap satu derajat bagaikan antara langit dan bumi.

Kedua, siapa yang bersabar dalam keta’atan yakni mengerjakan taat dan menanggung kesukaran dalam melaksanakan keta’atan, maka Allah akan mencatatkan baginya 600 derajat, dan setiap satu derajat sama dengan luas permukaan bumi yang diatas sampai pada lapis bumi dibawah.

Ketiga, siapa yang bersabar dari kemaksiatan, yakni meninggalkan kemaksiatan karena Allah, maka Allah akan mencatat baginya 900 derajat, dimana setiap satu derajat bagaikan jarak permukaan bumi sampai ke Arsy. Dan dia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya dua kali ganda, karena sabar dengan segala yang diharamkan adalah martabat yang paling tinggi.

Kesempatan Menolong

Dalam kitab ”Majmul zawaid wa manba’ul fawaid” dinyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaiwasallam telah bersabda :

”Siapa yang berjalan untuk membantu keperluan kawannya sesama muslim maka Allah akan menuliskan satu kebaikan dari tiap langkah kakinya sampai dia pulang menolong hambanya tersebut. Jika dia telah dapat menolong kawannya tersebut maka dia akan keluar dari segala dosa-dosanya bagaikan hari dilahirkan ibunya, dan jika dia ditimpa kecelakaan (samapi meninggal dunia) maka dia akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab.” (Hadist riwayat Abu Ya’ala)

Dalam hadist lain juga disebut :

”Siapa yang berjalan menolong saudaranya sesama muslim maka Allah akan menuliskan 70 kebaikan dari setiap langkah yang dikerjakannya.” (HR Thabrani)

”Siapa yang bersikap ramah kepada sesama mukmin dan meringankan keperluan hidupnya baik sedikit maupun banyak maka kewajiban bagi Allah untuk melayaninya (si penolong tersebut) dengan pelayanan surga.” (HR Thabrani)

Demikian beberapa sikap dalam menghadapi musibah. Kita yakin bahwa segala sesuatu itu merupakan takdir Ilahi. Kita juga yakin bahwa musibah itu akibat dosa yang sudah merajalela dan kita juga yakin bahwa musibah untuk memberikan pahala sabar kepada mereka yang terkena musibah, dan pahala menolong bagi mereka yang tidak terkena musibah, sehingga musibah merupakan ujian keimanan bagi sesama manusia.

Semoga iman kita tidak hilang disebabkan musibah.

Sumber : M. ARIFIN ISMAIL, MA.M.Phil

Facebook Tags:
del.icio.us Tags:
Technorati Tags:

Minggu, 27 September 2009

Silaturahmi dan Networking Umat

“dan peliharalah hubungan silaturahmi” (QS. An Nisa : 1)

Dalam surat An Nisa ayat pertama, Allah SWT berfirman :

”Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah, nama Tuhan yang selalu kamu pergunakan untuk saling bertanya antara satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi. Sesungghnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Dalam ayat ini dapat disimpulkan, bahwa Allah menyuruh kita untuk mengadakan hubungan silaturahmi, dan dengan perintah ini maka silaturahmi merupakan kewajiban. Malahan di akhir ayat, Allah mengatakan bahwa Dia akan selalu memperhatikan dan memantau tentang hubungan silaturahmi terssebut. Jika Al Quran mewajibkan silaturahmi, maka hadist Nabi menjelaskan tentang keutamaan silaturahmi. Beberapa hadist silaturahmi diantaranya :


  • Silaturahmi sebagai tanda iman.

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam bersabada : ”Siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya hendaklah dia menghubungkan silaturahmi, siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari Muslim)

  • Memperpanjang umur dan menambah rezeki

Dari Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam bersabda : ”Siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan ditambahkan rezekinya maka hendaklah dia bersilaturrahmi.” (HR. Ahmad)

Anas bin Malik juga menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam bersabda : ”Siapa yang ingin di lapangkan rezekinya dan mendapatkan kesan yang baik (setelah kematiannya) maka hendaklah dia menghubungkan silaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadist lain Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam bersabda : ”Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diberikan kesan yang baik setelah kematiannya maka hendaklah dia bersilaturahmi. (HR. Bukhari Muslim).

Tarmidzi juga meriwayatkan dengan lafadz : ”Pelajarillah silsilah keturunan untuk bersilaturahmi, sebab dengan silaturahmi memperbanyak kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperbaiki kesan hidup setelah kematian.”

  • Silaturahmi dapat menolak bala

Sayyidina Ali bin Abi Thalib menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam pernah bersabda : ”Siapa yang ingin umur panjang dan mendapat rezeki yang luas dan menolak sesuatu yang buruk (bencana/musibah) maka hendaklah dia bertaqwa kepada Allah, dan menghubungkan silaturahmi.” (riwayat Abdulah bin Imam Ahmad dalam kitab Zawaid, Bazzar dan hakim)

Dalam hadist lain, Anas bin Malik menceritakan bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam bersabda : ”Sedekah dan silaturahmi dapat menolak sesuatu yang buruk, sesuatu yang dibenci dan sesuatu yang dikhawatirkan.” (HR. Aby Yahya)

  • Silaturahmi : Membangun masyarakat

Dari Ibnu Abbas menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam bersabda : ”Sesungguhnya Allah akan membangun suatu negeri, dan menambahkan harta kekayaan penduduk negeri tersebut dan tidak pernah memandang kepada mereka dengan kebencian sejak mereka diciptakan.”

Sahabat bertanya :

Bagaimana hal itu dapat terjadi ?

Rasulullah Shallallahu ’alai wasalam menjawab :

Hal itu terjadi sebab mereka selalu mengadakan silaturahmi antara sesama mereka (HR. Thabrani dengna isnad hasan dan Hakim)

Dalam hadist lain Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam bersabda : ”Siapa yang diberi Allah rasa kasih sayang maka dia akan mendapat kebaikan dunia dan akhirat, dan silaturahmi, berbaik dengan tetangga dan akhlak mulia dapat membangun negeri dan memperpanjang usia.” (riwayat Ahmad)

  • Balasan yang paling cepat

Silaturahmi merupakan amalan yang mendapat balasan paling cepat sebagaimana diceritakan oleh Aisyah r.a bahwa Rasulullah Shallallahu’alai wassalam pernah bersabda : ”Kebaikan yang paling cepat balasannya adalah berbuat baik kepada orang lain dan silaturahmi dan keburukan yang paling cepat balasannya adalah berbuat buruk kepada orang lain dan memutuskan silaturahmi.” (HR. Ibnu Majah)

  • Manaikkan derajat dan kedudukan

Sahabat Nabi, Ubadah bin Samit menceritakan, Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam bersabda : ”Adakah kamu ingin aku tunjukkan sesuatu perbuatan yang mengakibatkan kamu diangkat Allah SWT beberapa derajat ..?

Sahabat Nabi tersebut menjawab :”Baik ya Rasulullah.”

Nabi Muhamamad Shallallahu ’alai wassalam kemudian bersabda : ”Berbuat baik terhadap orang yang bodoh, memaafkan kepada orang yang mendzalimi engkau, dan memberikan sesuatu kepada orang yang tidak mau memberikan sesuatu kepadamu dan menghubungkan silaturahmi kepada orang yang memutuskanmu.” (HR. Bazzar dan Thabrani)

  • Memutuskan silaturahmi dapat menangguhkan penerimaan amal

Sahabat nabi, Abu Hurairah menceritakan bahwa saya mendengar Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam beersabda : ”Sesungguhnya amal manusia itu akan diperlihatkan setiap hari kamis malam jum’at, maka tidak akan diterima amalan orang yang memutuskan silaturahmi.” (HR. Ahmad).

Isteri Nabi, Siti Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam bersabda : ”Jibril datang kepadaku pada malam nisfu sya’ban dan malam itu Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka sebanyak bulu kambing dan Allah tidak melihat kepada mereka yang syirik, orang yang sedang bertengkar, orang yang memutuskan silaturahmi, orang yang sombong dengan pakaian yang panjang, orang yang durhaka kepada orang tua, dan orang yang meminum arak.” (HR. Baihaqi)

  • Memutuskan silaturahmi menghalangi masuk surga

Sahabat Nabi, Jabir bin Mat’a menceritakan bahwa dia mendengar nabi Muhammad Shallallahu ’alai wassalam bersabda : ”Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan silaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim dan Tarmidzi)

  • Kebaikan untuk orang tua yang telah meninggal

Sahabat Nabi Abi Usaid Malik bin Rabiah as Sa’adi menceritakn bahwa sewaktu mereka duduk dalam majlis bersama Rasulullah Shallallahu ’alai wassalam, datang seorang lelaki dari Bani Salmah, berkata :Ya Rasulullah, apakah ada kebaikan yang dapat saya lakukan sebagai kebaikan kepada orang tua yang telah meninggal dunia...?

Rasulullah Shallallahu ’alai wassalm bersabda :

“Ya, kamu berdo’a untuk keduanya, meminta ampun untuk keduanya, meluluskan janjinya, menghubungkan silaturahmi dengna orang yang berkaitan dengan keduanya.” (HR. Abu daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Abi Dardah dating ke Madinah, maka datanglah Abdullah bin Umar berkata : Apakah kamu mengetahui mengapa aku menjumpaimu…?

Abi Dardah berkata : aku tidak tahu.

Abdullah bin Umar berkata : karena aku mendengar Rasulullah Shallallhu ’alai wassalam bersabda : ”Siapa yang suka berhubungan dengan orangtuanya yang sudah dalam kuburan, maka hendaklah dia menghubungkan silaturahmi dengan kawan-kawan orrangtuanya tersebut, dan sesungguhnya antara ayahku Umar dan ayahmu terdapat persaudaraan, maka aku ingin meneruskan hubungan tersebut.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya)

Dari beberapa hadist silaturahmi tersebut diatas dapat kita simpulkan bahwa silaturahmi merupakan amal ibadah yang paling utama, tapi sayangnya umat Islam kurang peduli dengan silaturahmi tersebut. Untuk itu amalan yang dilatih bagi umat Islam setelah berpuasa adalah silaturahmi dengan saling berkunjung\, saling memaafkan, saling mengenal pribadi, potensi dan profesi masing-masing.

Diharapkan silaturahmi di awal Syawal ini dapat merupakan modal untuk membuat jaringan sosial, jaringan ekonomi, jaringan informasi sehingga pada tahun mendatang, modal silaturahmi di bulan Syawal dapat menjadi networking antar individu, networking antar kelompok, networking antar jemaah. Sehingga dengan networking segala program umat dapat tercapai dalam membangun sebuah peradaban Islam.

Sumber : M. ARIFIN ISMAIL. MA.M.Phil

facebook Tags: Share on Facebook